Minggu, 29 April 2012

Gesang Martohartono

Gesang atau lengkapnya Gesang Martohartono (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917 – meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 20 Mei 2010 pada umur 92 tahun) adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Indonesia. Dikenal sebagai "maestro keroncong Indonesia," ia terkenal lewat lagu Bengawan Solo ciptaannya, yang terkenal di Asia, terutama di Indonesia dan Jepang. Lagu 'Bengawan Solo' ciptaannya telah diterjemahkan kedalam, setidaknya, 13 bahasa (termasuk bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, dan bahasa Jepang)

Gesang tinggal di di Jalan Bedoyo Nomor 5 Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo bersama keponakan dan keluarganya, setelah sebelumnya tinggal di rumahnya Perumnas Palur pemberian Gubernur Jawa Tengah tahun 1980 selama 20 tahun. Ia telah berpisah dengan istrinya tahun 1962. Selepasnya, memilih untuk hidup sendiri. Ia tak mempunyai anak.


Gesang pada awalnya bukanlah seorang pencipta lagu. Dulu, ia hanya seorang penyanyi lagu-lagu keroncong untuk acara dan pesta kecil-kecilan saja di kota Solo. Ia juga pernah menciptakan beberapa lagu, seperti; Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan, pada masa perang dunia II. Sayangnya, ketiga lagu ini kurang mendapat sambutan dari masyarakat.



Video diatas ada versi asli opa Gesang



Video diatas adalah aransemen dari lisa Ono



Bengawan Solo

Bengawan Solo
Riwayatmu kini
Sedari dulu jadi
Perhatian insani

Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Di musim hujan, air
meluap sampai jauh


  Reff:
  Mata airmu dari Solo
  Terkurung Gunung Seribu
  Air mengalir sampai jauh
  Akhirnya ke laut


Itu perahu
Riwayatnya dulu
Kaum pedagang selalu
Naik itu perahu



Pencipta
Gesang Sang Maestro Keroncong

Sik Sik Si Batumanikam - Batak



Sik sik si batumanikam
diparjoget sorma digottam
dina mangia-ni
Sibang bangkar jula jula
(2x)

Asi dengan si doding 2x
didang didang di pangardang
Molo marsi berengan 2x
Mak siaktu sandi bagasan
Sik sik sik dst…..2x

Andor andor go tilo 2x
Tilo tilo lipurta bulan
Maula so binoto 2x
Hula hula li parjalan
Sik sik…..dst 2x

Dekke julung julung 2x
Su-uko ponani tolong
Unang gabe pak porong 2x
Molo ikong morong morong


Butet - Batak


Butet
butet dipangungsian do apangmu ale butet
damargurilla damardarurat ale butet
damargurilla damardarurat ale butet
i doge doge doge dai doge doge doge
i doge doge doge dai doge doge doge




butet sotung ngolngolan ro hamuna ale butet
pai ma tona manang surat ale butet
pai ma tona manang surat ale butet
i doge doge doge dai doge doge doge


i doge doge doge dai doge doge doge


butet tibo do mulak au apangmu ale butet
masunta ingkon saut do talu ale butet
masunta ingkon saut do talu ale butet
i doge doge doge dai doge doge doge


i doge doge doge dai doge doge doge


butet haru patibu ma magodang ale butet
asa adong da palang merah ale butet
da palang merah ni negara ale butet
i doge doge doge dai doge doge doge
i doge doge doge dai doge doge doge

Saijojo-Papua



Sajojo, sajojo

Yumanampo misa papa
Samuna muna muna keke
Samuna muna muna keke

Sajojo, sajojo
Yumanampo misa papa
Samuna muna muna keke
Samuna muna muna keke

Kuserai, kusaserai rai rai rai rai
Kuserai, kusaserai rai rai rai rai

Inamgo mikim ye
pia sore, piasa sore ye ye
Inamgo mikim ye
pia sore, piasa sore ye ye

Sigulempong - Batak




Natinittip sanggar sigule sigule

Saibahen huru huruan sigule

Sigulempong sigule gule


Jolo sinukkun marga sigule sigule

Molo sairap hita nadua sigule

Sigulempong sigule gule


Sirma inang sarge

Dasai sirma inang sarge

Tarsongoni doho hape pargontingna dauk gale
Tarsongoni doho hape pargontingna dauk gale


Salendang sapu tangan sigule sigule

Diatas ni batu nadua sigule

Sigulempong sigule gule


Leleng maho ito da sigule sigule

Da sai hu pai maina sigule

Sigulempong sigule gule

Sabtu, 28 April 2012

Sasando, Indonesia music Traditional

Tak banyak yang tahu musik etnis Sasando ternyata disukai sekelompok penikmat musik khas Indonesia di Australia dan Eropa. Tapi, di Indonesia sendiri, dari 200 juta lebih penduduknya, banyak yang belum paham apa itu musik sasando. 

Bagi masyarakat Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, tempat asal usul musik sasando, musik tersebut sangat dikenal sebagai musik keseharian. Musik itu berbahan Baku daun pohon lontar. Di Pulau Rote, pohon lontar pada saat ini bukan saja dijadikan sumber kehidupan karena menghasilkan tuak, sopi, gula lempeng, gula semut, wadah pembungkus tembakau/rokok, tikar, haik, sandal, topi, atap rumah, dan balok bahan bangunan, melainkan lebih dari itu dianggap punya nilai lebih karena daun pohon lontar makin sering dijadikan resonator musik yang dikenal dengan sebutan sasandu atau sasando.

Asal mula alat musik langka itu, menurut banyak tokoh adat di Pulau Rote, telah dikenali sejak Rote menjadi bagian dari daerah kerajaan. Dalam legenda memang muncul banyak versi mengenai sejarah munculnya sasando. Konon, awalnya adalah ketika seorang pemuda bernama Sangguana terdampar di Pulau Ndana saat pergi melaut. Ia dibawa oleh penduduk menghadap raja di istana. Selama tinggal di istana inilah bakat seni yang dimiliki Sangguana segera diketahui banyak orang hingga sang putri pun terpikat. Ia meminta Sangguana menciptakan alat musik yang belum pernah ada. Suatu malam, Sangguana bermimpi sedang memainkan suatu alat musik yang indah bentuk maupun suaranya.

Diilhami mimpi tersebut, Sangguana menciptakan alat musik yang ia beri nama sandu (artinya bergetar). Ketika sedang memainkannya, Sang Putri bertanya lagu apa yang dimainkan, dan Sangguana menjawab, "Sari Sandu". Alat musik itu pun ia berikan kepada Sang Putri yang kemudian menamakannya Depo Hitu yang artinya sekali dipetik tujuh dawai bergetar.

Keindahan bunyi sasando mampu menangkap dan mengekspresikan beraneka macam nuansa dan emosi. Karena itu, dalam masyarakat Nusa Tenggara Timur, sasando adalah alat musik pengiring tari, penghibur keluarga saat berduka, menambah keceriaan saat bersukacita, serta sebagai hiburan pribadi. Kini musik sasando dikenal sebagai alat musik yang menghasilkan melodi terindah dari Pulau Rote.

Secara umum, bentuk sasando serupa dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola, dan kecapi. Tetapi, tanpa chord (kunci), senar sasando harus dipetik dengan dua tangan, seperti harpa. Tangan kiri berfungsi memainkan melodi dan bas, sementara tangan kanan memainkan accord. Ini menjadi keunikan sasando karena seseorang dapat menjadi melodi, bass, dan accord sekaligus.

Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Melingkar dari atas ke bawah tabung adalah ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) direntangkan dan bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Tabung sasando ini diletakkan dalam sebuah wadah setengah melingkar terbuat dari daun pohon gebang (semacam lontar) yang menjadi tempat resonansi sasando. Hingga kini, semua bahan yang dipakai untuk membuat sasando terbuat dari bahan alami, kecuali senar dari kawat halus.

Jenis-jenis sasando dibedakan dari jumlah senarnya, yaitu sasando engkel (dengan 28 dawai), sasando dobel (dengan 56 dawai, atau 84 dawai), sasando gong atau sasando haik, dan sasando biola. Karena itu, bunyi sasando sangat bervariasi. Hampir semua jenis musik bisa dimainkan dengan sasando, seperti musik tradisional, pop, slow rock, bahkan dangdut. Ada kalanya perbedaan pada cara permainan tipe sasando tertentu tergantung gaya permainan di tiap daerah, kemampuan pemain dan tidak adanya sistem notasi musik, khususnya untuk sasando gong.

Terdapat dua jenis ensembel sasando, yaitu yang terdapat di Pulau Rote, di mana sasando dimainkan untuk mengiringi nyanyian dan tabuhan gendang. Sedangkan di Pulau Sabu, dua buah sasando dimainkan bersamaan dengan iringan vokal, tetapi tanpa gendang. Dengan bentuknya dan bahan bakunya yang sederhana itu, tak aneh jika warga Australia dan Portugis setiap berkunjung ke NTT selalu membeli sasando. Musik itu kemudian menjadi musik kebanggaan di NTT.



MASTER SASANDO INDONESIA , OM JEREMIAS O PAH
Menyebut nama Oom Pah, boleh jadi Anda merasa belum familiar.  Tapi saat bibirnya menyanyikan syair, ‘Bolelebo, ita nusa lelebo' sembari jemarinya ‘menari' lincah di atas sebuah instrumen musik dari daun lontar, Anda akan teringat pada alat musik khas Timor; Sasando.


Nama Jeremias August Pah -saat ini berusia 68- atau lebih akrab disapa Oom Pah memang tak terpisahkan dari Sasando.  Peranti instrumen petik dari Pulau Rote.


Pria bersahaja ini tinggal di Oebelo, sekitar 25 km dari Kupang, ibukota Timor Barat di kawasan Nusa Tenggara Timur.  Pada sebuah rumah sederhana yang sekaligus berfungsi sebagai workshop. 


Bagi saya dan ibunda tercinta yang baru-baru ini berkunjung ke Timor, jumpa Oom Pah kami kategorikan sebagai dream comes true.  Meski di negeri sendiri namanya tidak bergaung sedemikian kencang, di mancanegara ia mampu menggetarkan hati para pendengarnya.



Reputasi terbaru beliau adalah diundang ke Jepang pada tahun lalu [2006] untuk memperdengarkan keandalannya dalam memetik Sasando.


Sebagai maestro Sasando, Oom Pah juga menciptakan pembaruan Sasando dalam jumlah senar.  Sekaligus memasukkan unsur elektrik yang mulai ia perdengarkan pada tahun 1986.  "Dari 10 senar, menjadi 24, 28 hingga 32," tukasnya seraya memetik Sasando tercinta. 

Sayangnya, "Anak-anak muda sekitar sini sudah jarang yang bisa petik Sasando," ujar pria yang kesehariannya lebih suka menggunakan pakaian tradisional itu.  "Jumlahnya bisa dihitung jari!"


Ironisnya, permintaan instrumen justru datang dari Jepang dan Amerika Serikat.  "Padahal kalau dibilang bakat, orang sini [Pulau Rote dan Timor] pasti lebih akrab dengan Sasando.  Tapi orang luar [luar negeri], walau tidak bisa tetap saja punya keingintahuan besar; bagaimana cara Sasando dipetik agar bisa menghasilkan nada."


Itu sebabnya, ia begitu bersyukur saat salah satu putranya, Jitron mewarisi kebisaannya bermain Sasando.  Oom Pah berharap, keberadaan Sasando dan pemain peralatan musik ini dari Indonesia tak akan punah di kemudian hari.


Bukan itu saja, diam-diam saya berdoa, agar instrumen ini ‘tetap milik Indonesia' alias tidak dipatenkan jadi peranti musik dan kesenian negeri lain, seperti yang terjadi pada gamelan dan batik.


sumber :
wikimu
indonesia.com